Menilik Sejarah pendidikan di Indonesia, kita akan menemukan sebuah ironi: meskipun kaya akan warisan sastra, bidang ini kerap kali terpinggirkan dalam kurikulum formal. Posisi sastra sering kali hanya menjadi pelengkap, tidak mendapatkan porsi yang memadai untuk dikaji secara mendalam. Artikel ini akan membahas bagaimana Menilik Sejarah ini dapat memberikan pelajaran berharga untuk masa depan pendidikan sastra di Tanah Air.
Pada era awal kemerdekaan, fokus pendidikan cenderung pada pembangunan karakter dan semangat nasionalisme, dengan sastra sebagai salah satu mediumnya. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya orientasi pendidikan yang lebih pragmatis, sastra mulai kehilangan tempat. Kurikulum lebih banyak menekankan pada penguasaan tata bahasa dan keterampilan menulis yang bersifat fungsional, sementara apresiasi sastra seringkali diabaikan. Ini bukan tanpa alasan; tuntutan ujian nasional yang mengukur kemampuan berbahasa secara kaku dan keterbatasan waktu belajar di kelas turut berkontribusi pada fenomena ini.
Akibat dari terpinggirkannya sastra adalah kurangnya pemahaman generasi muda terhadap kekayaan khazanah sastra nasional maupun global. Mereka mungkin akrab dengan nama-nama besar seperti Chairil Anwar atau Pramoedya Ananta Toer, namun sedikit yang benar-benar menyelami karya-karya mereka secara utuh. Padahal, sastra adalah cerminan masyarakat, wadah untuk memahami kompleksitas manusia, dan sarana untuk mengasah kepekaan emosional serta daya kritis. Menilik Sejarah ini menunjukkan adanya kehilangan potensi dalam pembentukan karakter siswa.
Fenomena terpinggirkannya sastra juga dapat diamati dari ketersediaan bahan ajar dan pelatihan guru. Banyak guru bahasa Indonesia yang mungkin belum mendapatkan pelatihan memadai tentang metode pengajaran sastra yang inovatif dan inspiratif. Sumber daya yang terbatas juga seringkali menjadi kendala dalam menghadirkan karya-karya sastra yang beragam dan relevan bagi siswa.
Namun, semangat untuk menghidupkan kembali sastra dalam pendidikan kini semakin menguat. Inisiatif seperti program “Sastra Masuk Kurikulum” dalam payung Merdeka Belajar merupakan bukti kesadaran akan pentingnya peran sastra. Sebagai contoh, pada forum diskusi yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, pada hari Rabu, 17 April 2024, pukul 14.00 WIB, di Aula Ki Hajar Dewantara, Jakarta, dibahas strategi implementasi sastra dalam pembelajaran dan peningkatan kualitas guru sastra. Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan guru besar sastra dari berbagai universitas dan dipimpin oleh Bapak Dr. Ir. Gunawan Wibisono, M.Si., seorang ahli pendidikan.
Dengan Menilik Sejarah ini, kita dapat belajar bahwa mengembalikan sastra ke posisi sentral dalam pendidikan bukanlah sekadar nostalgia, melainkan kebutuhan mendesak untuk membentuk generasi yang berbudaya, berempati, dan memiliki daya pikir yang komprehensif.