Solidaritas bukan sekadar konsep teoritis dalam buku pendidikan kewarganegaraan, melainkan nilai yang harus dihidupkan melalui praktik nyata di ruang kelas. Di SMPN 1, program adopsi teman menjadi salah satu inovasi sosial yang sangat efektif untuk memecah batasan antar-kelompok dan meningkatkan rasa kebersamaan di antara para siswa. Program ini bertujuan memastikan tidak ada satu pun siswa yang merasa terisolasi, baik karena kendala akademik, ekonomi, maupun perbedaan sosial.
Melalui program ini, siswa yang memiliki kelebihan—baik dalam hal kemampuan akademis maupun kepercayaan diri—secara sukarela menjadi “pendamping” bagi teman lainnya yang mungkin lebih membutuhkan dukungan. Ini bukan tentang rasa kasihan, melainkan tentang membangun solidaritas yang sehat dan setara. Ketika seorang siswa membantu teman sebangku yang kesulitan dalam pelajaran matematika, atau menemani teman yang pemalu untuk berbaur di kantin, sebuah ikatan persaudaraan yang tulus mulai terbentuk di sana.
Manfaat dari program adopsi teman ini sangat luar biasa bagi siswa. Bagi siswa yang didampingi, mereka akan merasa lebih percaya diri dan memiliki motivasi lebih tinggi untuk bangkit dari kesulitan. Sementara bagi siswa pendamping, mereka belajar tanggung jawab, empati, dan kepemimpinan yang matang. Mereka diajarkan bahwa keberhasilan seseorang tidak ada artinya jika teman di sekitarnya masih tertinggal. Inilah esensi dari nilai gotong royong yang menjadi identitas SMPN 1 dalam membentuk karakter siswa yang peduli.
Tentu saja, keberhasilan program ini sangat bergantung pada peran guru. Guru berperan sebagai fasilitator yang memantau dinamika pertemanan tanpa harus terlihat terlalu mendikte. Guru harus memastikan bahwa proses “adopsi” berjalan secara organik dan tidak menimbulkan ketergantungan yang berlebihan. Tujuannya adalah agar siswa belajar bagaimana cara berinteraksi secara sehat dan mandiri dengan lingkungannya, sambil tetap menjaga hubungan persahabatan yang suportif dan saling menguatkan.
Selain itu, sekolah bisa memberikan apresiasi bagi pasangan-pasangan siswa yang paling menunjukkan perkembangan positif melalui program ini. Apresiasi bukan berarti menonjolkan siapa yang paling hebat, melainkan merayakan keberhasilan mereka dalam membangun hubungan yang harmonis. Hal ini akan memotivasi siswa lainnya untuk turut serta berpartisipasi dalam menciptakan ekosistem sekolah yang inklusif dan ramah bagi siapa pun. Sekolah harus menjadi tempat di mana perbedaan dirayakan, bukan dijadikan alasan untuk memisahkan diri.