Di balik teks proklamasi yang kita kenal, tersimpan cerita unik yang jarang diketahui. Naskah asli yang ditulis tangan oleh Soekarno bukanlah naskah final. Fakta ini menambah kedalaman sejarah di balik momen paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Naskah ini ditulis dalam suasana genting dan penuh tekanan.
Naskah awal teks proklamasi ternyata ditulis di atas sobekan kertas. Kertas ini diambil dari sebuah buku yang ada di meja. Soekarno, didampingi Hatta, merumuskan kalimat-kalimat penting yang akan menjadi penentu nasib bangsa. Momen ini terjadi di rumah Laksamana Maeda, Jakarta.
Terdapat beberapa coretan dan perubahan pada naskah tulisan tangan tersebut. Kata “hal-hal” awalnya ditulis “hal2”. Kata “tempoh” juga diubah menjadi “tempo”. Perubahan-perubahan ini dilakukan untuk menyempurnakan kalimat agar lebih formal. Teks proklamasi menunjukkan proses perumusan yang penuh kehati-hatian.
Setelah naskah tulisan tangan selesai, barulah diketik oleh Sayuti Melik. Versi ketikan inilah yang kemudian disebarkan kepada seluruh rakyat Indonesia. Sayuti Melik mengubah beberapa ejaan, seperti “Djakarta, 17-8-’05” menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen ’05”.
Rahasia di balik naskah asli teks proklamasi adalah keberadaannya yang sempat hilang. Naskah tulisan tangan itu sempat dibuang karena dianggap tidak penting. Untungnya, seorang wartawan bernama B.M. Diah menemukannya di tempat sampah dan menyimpannya selama bertahun-tahun.
Tanpa inisiatif B.M. Diah, mungkin kita tidak akan pernah melihat naskah asli itu. Naskah ini adalah saksi bisu perjuangan. Teks proklamasi tulisan tangan Soekarno akhirnya dikembalikan kepada pemerintah Indonesia pada tahun 1992. Kini, naskah itu tersimpan rapi di Arsip Nasional.
Perbedaan antara naskah tulisan tangan dan ketikan juga memberikan pelajaran. Naskah tulisan tangan mencerminkan spontanitas dan gejolak emosi saat merumuskan kemerdekaan. Sementara naskah ketikan adalah versi final yang lebih rapi dan resmi, siap untuk disiarkan.
Fakta ini menunjukkan bahwa teks proklamasi adalah hasil kerja kolektif. Ada Soekarno yang merumuskan, Hatta yang memberikan masukan, Sayuti Melik yang mengetik, dan B.M. Diah yang menyelamatkannya. Setiap orang punya peran penting dalam sejarah.